STRUKTUR KALIMAT
EFEKTIF
A. Struktur Kalimat Efektif
1. Struktur Kalimat Umum
Unsur-unsur kalimat yang membangun sebuah kalimat dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: unsur wajib dan unsur takwajib (unsur manasuka). Unsur wajib adalah subjek dan predikat, sedangkan unsur takwajib adalah unsur yang boleh ada dan boleh juga takada (yaitu kata kerja bantu, harus, boleh; keterangan aspek sudah, akan; keterangan tempat, waktu, cara dsb)
2. Struktur Kalimat Paralel
Maksudnya adalah penggunaan bentuk bahasa yang sama yang dipakaidalam susuna serial.
Contoh:
Penyakit alzheimer alis pikun adalah satu segi usia yang paling mengerikan dan berbahaya sebab pencegahan dan cara pengobatannya takada yang tahu.
Seharusnya:
Penyakit alzheimer alis pikun adalah satu segi usia yang paling mengerikan dan membahayakan sebab pencegahannya dan cara pengobatannya takada yang tahu.
(a) Kesejajaran Bentuk
Contoh:
Kegiatannya meliputi pembelian buku, membuat katalog, dan mengatur peminjaman buku.
Seharusnya: dijadikan nomina atau verba
Kegiatannya meliputi pembelian buku, pembuatan katalog, dan pengaturan peminjaman buku.
Kegiatannya meliputi membelian buku, membuat katalog, dan mengatur peminjaman buku.
(b) Kesejajaran makna
Contoh:
Ia memetiki setangkai bunga.
Seharusnya:
Kata memetiki tidak dapat didunakan pada kata setangkai bungau karena kata ini bermakan berulang. Perbaikan dapat dilakukan dengan mengubah predikat menjadi memetik atau menghilangkan satuan setangkai pada objek.
(c) Kesejajaran dalam perincian pilihan
Contoh:
Pemasangan telepon akan menyebabkan ...
a. Melancarkan tugas
b. Menanbah Wibawa
c. Meningkatkan pengeluaran
Jawabannya adalah a, tetapi kalimat pemasangan telepon akan menyebabkan melancarkan tugas bukanlah kalimat yang baik. Pilihan b meskipun memang bukabn jawaban yang tepat, tidak mempunyai peluang untuk diplih karena kalimat pemasangan telepon akan menyebabkan untuk menambah wibawa bukanlah kalimat baik. Kalimat yang memuat pilihan c justru paling baik, tetapi pilihan itu bukanlah jawaban yang diharapkan. Saoal itu dapat diubah menjadi
Pemasangan telepon akan meningkatkan..
a. Kelancaran
b. Wibawa
c. pengeluaran
3. Struktur Kalimat Periodik
Struktur ini lebih mengemukakan unsur-unsur tambahan baru kemuadian unsur intinya. Hal ini dilakukan untuk menarik perhatian pembaca.
Contoh:
Oleh mahasiswa kemarin jenazah yang busuk itu dikuburkan (O-K-S-P)
Tanggal 22 Desember 2011 Hari Ibu dirayakan oleh Dharma Wanita Undiksha. (K-S-P-O)
B. Ciri-Ciri Kalimat Efektif
1. Kesatuan (Unity)
contoh:
kepada para mahasiswa diharapkan mendaftarkan diri di sekretariat.
Kalimat ini tidak jelas subjeknya sehingga diperbaiki menjadi
Para mahasiswa diharapkan mendaftarkan diri di sekretariat.
2. Kehematan (Economy)
(a) Mengulang Subjek kalimat
Contoh:
Pemuda itu segera mengubah rencananya setelah dia bertemu dengan pemimpin perusahaan itu.
Seharusnya:
Pemuda itu segera mengubah rencana setelah bertemu dengan pemimpin perusahaan itu.
(b) hiponim dihindarkan
contoh:
Presiden SBY menghadiri rapin ABRI hari Senin lalu.
Perbaikanya:
Presiden SBY menghadiri rapin ABRI Senin lalu.
(c) Pemakian kata depan ‘dari’ dan ‘daripada’
Contoh:
Pak Gita berangkat dari Bandung pukuln 07.50.
Kalimat A lebih sukar daripada kalimat B.
Contoh kalimat yang salah;
Anak dari tetangga saya Senin ini akan dilantik menjadi dokter.
3. Penekanan (Emphasis)
Penekanan adalah upaya pemberian aksentuasi, pementingan atau pemusatan perhatian pada salah satu unsur atau bagian kalimat agar lebih mendapat perhatian.
(a) Pemindahan letak frase
Contoh:
Prof. Dr. Raja Goza berpendapat, salah satu indikator yang menunjukkan tidak efisiennya pertamina adalah rasio yang masih timpang antara jumlaah pegawai pertamina dan produksi minyaknya. (1)
Salah satu indikator yang menunjukkan tidak efisiennya pertamina menurut pendapat Prof. Dr. Raja Goza adalah rasio yang masih timpang antara jumlaah pegawai pertamina dan produksi minyaknya.(2)
Rasio yang masih timpang antara jumlaah pegawai pertamina dan produksi minyaknya.adalah salah satu indikator yang menunjukkan tidak efisiennya pertamina. Demikian pendapat Prof. Dr. Raja Goza (3)
Ide yang dipentingkan berbeda dalam tiga kalimat itu karena perbedaan letak pada kalimat pokoknya.
(b) Pengulangan kata-kata yang sama
Contoh:
Dalam prmbiayaan harus ada keseimbangan antara pemerintah dan swasta, keseimbangan domestik luar negeri, keseimbangan perbankan, dan lembaga keuangan nonbank.
Selain itu emphasis dapat juag dulakukan dengan intonasi, partikel, kata keterangan, kontras makna, pemindahan unsur, dan bentuk pasif (chaer, 2000 dalam Putrayasa 2010).
(1) Intonasi
Contoh:
a. Gie membaca ‘Gadis’ di kamar.
b. Gie membaca ‘Gadis’ di kamar.
c. Gie membaca ‘Gadis’ di kamar.
d. Gie membaca ‘Gadis’ di kamar.
(2) Partikel
Partikel yang, lah- yang, pun-lah
Contoh:
Aku yang meminjam bukumu.
Akulah yang meminjam bukumu.
Wewelah yang nakal buka aku.
Penjahat itu pun keluarlah dari persembunyiannya.
(3) Kata Keterangan
Contoh:
Memang ibuku sudah datang.
Pelitnya bukan main bahkan untuk makan sendiri pun dia enggan mengeluarkan uang.
(4) Kontras Makna
Contoh:
Zaza berurai air mata pada saat orang berdukacita. (penegasan pada kalusa pertama)
(5) Pemindahan Unsur
Contoh:
Berangkat kami pagi-pagi sekali. (predikat)
Oleh orang tuanya dia tidak dapat izin untuk belajar karate. (objek)
Tadi pagi dosen bahasa Indonesia tidak mengajar (keterangan)
(6) Bentuk Pasif
Contoh:
Pohon tua itu ditebang kakak tadi pagi.
(kalimat asal ‘kakak menebang pohin tua itu tadi pagi’)
A. Struktur Kalimat Efektif
1. Struktur Kalimat Umum
Unsur-unsur kalimat yang membangun sebuah kalimat dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: unsur wajib dan unsur takwajib (unsur manasuka). Unsur wajib adalah subjek dan predikat, sedangkan unsur takwajib adalah unsur yang boleh ada dan boleh juga takada (yaitu kata kerja bantu, harus, boleh; keterangan aspek sudah, akan; keterangan tempat, waktu, cara dsb)
2. Struktur Kalimat Paralel
Maksudnya adalah penggunaan bentuk bahasa yang sama yang dipakaidalam susuna serial.
Contoh:
Penyakit alzheimer alis pikun adalah satu segi usia yang paling mengerikan dan berbahaya sebab pencegahan dan cara pengobatannya takada yang tahu.
Seharusnya:
Penyakit alzheimer alis pikun adalah satu segi usia yang paling mengerikan dan membahayakan sebab pencegahannya dan cara pengobatannya takada yang tahu.
(a) Kesejajaran Bentuk
Contoh:
Kegiatannya meliputi pembelian buku, membuat katalog, dan mengatur peminjaman buku.
Seharusnya: dijadikan nomina atau verba
Kegiatannya meliputi pembelian buku, pembuatan katalog, dan pengaturan peminjaman buku.
Kegiatannya meliputi membelian buku, membuat katalog, dan mengatur peminjaman buku.
(b) Kesejajaran makna
Contoh:
Ia memetiki setangkai bunga.
Seharusnya:
Kata memetiki tidak dapat didunakan pada kata setangkai bungau karena kata ini bermakan berulang. Perbaikan dapat dilakukan dengan mengubah predikat menjadi memetik atau menghilangkan satuan setangkai pada objek.
(c) Kesejajaran dalam perincian pilihan
Contoh:
Pemasangan telepon akan menyebabkan ...
a. Melancarkan tugas
b. Menanbah Wibawa
c. Meningkatkan pengeluaran
Jawabannya adalah a, tetapi kalimat pemasangan telepon akan menyebabkan melancarkan tugas bukanlah kalimat yang baik. Pilihan b meskipun memang bukabn jawaban yang tepat, tidak mempunyai peluang untuk diplih karena kalimat pemasangan telepon akan menyebabkan untuk menambah wibawa bukanlah kalimat baik. Kalimat yang memuat pilihan c justru paling baik, tetapi pilihan itu bukanlah jawaban yang diharapkan. Saoal itu dapat diubah menjadi
Pemasangan telepon akan meningkatkan..
a. Kelancaran
b. Wibawa
c. pengeluaran
3. Struktur Kalimat Periodik
Struktur ini lebih mengemukakan unsur-unsur tambahan baru kemuadian unsur intinya. Hal ini dilakukan untuk menarik perhatian pembaca.
Contoh:
Oleh mahasiswa kemarin jenazah yang busuk itu dikuburkan (O-K-S-P)
Tanggal 22 Desember 2011 Hari Ibu dirayakan oleh Dharma Wanita Undiksha. (K-S-P-O)
B. Ciri-Ciri Kalimat Efektif
1. Kesatuan (Unity)
contoh:
kepada para mahasiswa diharapkan mendaftarkan diri di sekretariat.
Kalimat ini tidak jelas subjeknya sehingga diperbaiki menjadi
Para mahasiswa diharapkan mendaftarkan diri di sekretariat.
2. Kehematan (Economy)
(a) Mengulang Subjek kalimat
Contoh:
Pemuda itu segera mengubah rencananya setelah dia bertemu dengan pemimpin perusahaan itu.
Seharusnya:
Pemuda itu segera mengubah rencana setelah bertemu dengan pemimpin perusahaan itu.
(b) hiponim dihindarkan
contoh:
Presiden SBY menghadiri rapin ABRI hari Senin lalu.
Perbaikanya:
Presiden SBY menghadiri rapin ABRI Senin lalu.
(c) Pemakian kata depan ‘dari’ dan ‘daripada’
Contoh:
Pak Gita berangkat dari Bandung pukuln 07.50.
Kalimat A lebih sukar daripada kalimat B.
Contoh kalimat yang salah;
Anak dari tetangga saya Senin ini akan dilantik menjadi dokter.
3. Penekanan (Emphasis)
Penekanan adalah upaya pemberian aksentuasi, pementingan atau pemusatan perhatian pada salah satu unsur atau bagian kalimat agar lebih mendapat perhatian.
(a) Pemindahan letak frase
Contoh:
Prof. Dr. Raja Goza berpendapat, salah satu indikator yang menunjukkan tidak efisiennya pertamina adalah rasio yang masih timpang antara jumlaah pegawai pertamina dan produksi minyaknya. (1)
Salah satu indikator yang menunjukkan tidak efisiennya pertamina menurut pendapat Prof. Dr. Raja Goza adalah rasio yang masih timpang antara jumlaah pegawai pertamina dan produksi minyaknya.(2)
Rasio yang masih timpang antara jumlaah pegawai pertamina dan produksi minyaknya.adalah salah satu indikator yang menunjukkan tidak efisiennya pertamina. Demikian pendapat Prof. Dr. Raja Goza (3)
Ide yang dipentingkan berbeda dalam tiga kalimat itu karena perbedaan letak pada kalimat pokoknya.
(b) Pengulangan kata-kata yang sama
Contoh:
Dalam prmbiayaan harus ada keseimbangan antara pemerintah dan swasta, keseimbangan domestik luar negeri, keseimbangan perbankan, dan lembaga keuangan nonbank.
Selain itu emphasis dapat juag dulakukan dengan intonasi, partikel, kata keterangan, kontras makna, pemindahan unsur, dan bentuk pasif (chaer, 2000 dalam Putrayasa 2010).
(1) Intonasi
Contoh:
a. Gie membaca ‘Gadis’ di kamar.
b. Gie membaca ‘Gadis’ di kamar.
c. Gie membaca ‘Gadis’ di kamar.
d. Gie membaca ‘Gadis’ di kamar.
(2) Partikel
Partikel yang, lah- yang, pun-lah
Contoh:
Aku yang meminjam bukumu.
Akulah yang meminjam bukumu.
Wewelah yang nakal buka aku.
Penjahat itu pun keluarlah dari persembunyiannya.
(3) Kata Keterangan
Contoh:
Memang ibuku sudah datang.
Pelitnya bukan main bahkan untuk makan sendiri pun dia enggan mengeluarkan uang.
(4) Kontras Makna
Contoh:
Zaza berurai air mata pada saat orang berdukacita. (penegasan pada kalusa pertama)
(5) Pemindahan Unsur
Contoh:
Berangkat kami pagi-pagi sekali. (predikat)
Oleh orang tuanya dia tidak dapat izin untuk belajar karate. (objek)
Tadi pagi dosen bahasa Indonesia tidak mengajar (keterangan)
(6) Bentuk Pasif
Contoh:
Pohon tua itu ditebang kakak tadi pagi.
(kalimat asal ‘kakak menebang pohin tua itu tadi pagi’)
4.
Kevariasian (Variety)
(a) Variasi dalam Pembukaan Kalimat
Sebuah kalimat dapat dimuali dengan
• Frase keterangan waktu, tempat, cara
• Frase benda
• Frase kerja
• Partikel penghubung
Contoh:
Gemuruh suara teriakan serempak penonton ketika penyerang tengah menyambar umpan dan menembus jala kiper pada menit kesembilan belas. (frase ket cara)
(b) Variasi dalam Pola Kalimat
Contoh:
Dokter muda itu belum dikenal oleh masyarajat desa Sukarami. (S-P-O)
Belum dikenal oleh masyarakat desa Sukarami dokter muda itu. (P-O-S)
(c) Variasi dalam jenis kalimat
Untuk mencapai keefektifan kalimat berita atau pertanyaan, dapat dikatakan dalam kalimat tanya atau kalmiat perintah.
(d) Variasi bentuk aktif-pasif
Contoh:
Pohon pisang itu cepat tumbuh. Kita dengan mudah dapat menanamnya dan memeliharanya. Lagi pula kita tidak perlu memupuknya.
Bandingkan
Pohon pisang itu cepat tumbuh. Dengan mudah pohon pisang itu dapat ditanam dan dipelihara.lagipula tidak perlu dipupuk.
LOGIKA ( PENALARAN DALAM KALIMAT)
A. Kesimpulan Umum
Kesimpulan umum adakah kesimpulan yang dibuat berdasarkan fakta-fakta khusus (induksi).
Contoh:
dapatàAyam bertelur, itik bertelur, angsa bertelur, merpati bertelur kita tarik kesimoulan umum bahwa angsa bertelur. Walaupun satu kesimpulan sudah sah dan logis , yetapi belum tentu dapat diterima. Diperlukan cukup banyak data dan pantas dijadikan model atau contaoh agar kesimpulan dapat diterima kenebarannya.
B. Kesimpulan Khusus
Contoh:
Pu : semua dokter tulisannya jelek
Pk : ayah saya seorang dokter
Jadi : ayah saya tulisannya jelek
Kesimpuloan ini, sah, ligis dan, benar.
C. Persamaan (Analogi)
Analogi adalah kesimpulan yang ditarik dengan jalan menyampaikan atau membandingkan suatau fakta khusus dengan fakta khusus lain. Kesimpulan dari analogi seringkali menyesatkan karena kedua fakta khusus yang dibandingkan tidak ada relevansinya.
Contoh:
Hidup ini laksana orang mampir ke warung; begitu kebutuhan telah terpenuhi ia segera meningggalkannya.
D. Alasan (Argumentasi)
Alasan atau argumentasi adalah sesuatu yang diberikan untuk membenarkan atau menguatkan suatu pendapat.
Contoh:
Lalu lintas du ibu kota seringkali macet karena banyak pengemudi yang tidak mematuhi peraturan lalu lintas. (alasanya bisa diterima)
Kesalahan dalam meberikan alasan sangat benyak sebabnya (chaer 2000 dalm Putrayasa 2010).
1) Alasan yang diberikan tidak mengenai pokok masalah
2) Alasan yang diberikan bukan mengenai masalah
3) Alasan yang diberikan tidak berdasarkan pendapat ahli
4) Alasan yang diberikan berdasarkan apriori
5) Alasan yang diberikan tidak ada hubungan dengana masalah poko
6) Alasan yang diberikan sama dengan masalahnya.
(a) Variasi dalam Pembukaan Kalimat
Sebuah kalimat dapat dimuali dengan
• Frase keterangan waktu, tempat, cara
• Frase benda
• Frase kerja
• Partikel penghubung
Contoh:
Gemuruh suara teriakan serempak penonton ketika penyerang tengah menyambar umpan dan menembus jala kiper pada menit kesembilan belas. (frase ket cara)
(b) Variasi dalam Pola Kalimat
Contoh:
Dokter muda itu belum dikenal oleh masyarajat desa Sukarami. (S-P-O)
Belum dikenal oleh masyarakat desa Sukarami dokter muda itu. (P-O-S)
(c) Variasi dalam jenis kalimat
Untuk mencapai keefektifan kalimat berita atau pertanyaan, dapat dikatakan dalam kalimat tanya atau kalmiat perintah.
(d) Variasi bentuk aktif-pasif
Contoh:
Pohon pisang itu cepat tumbuh. Kita dengan mudah dapat menanamnya dan memeliharanya. Lagi pula kita tidak perlu memupuknya.
Bandingkan
Pohon pisang itu cepat tumbuh. Dengan mudah pohon pisang itu dapat ditanam dan dipelihara.lagipula tidak perlu dipupuk.
LOGIKA ( PENALARAN DALAM KALIMAT)
A. Kesimpulan Umum
Kesimpulan umum adakah kesimpulan yang dibuat berdasarkan fakta-fakta khusus (induksi).
Contoh:
dapatàAyam bertelur, itik bertelur, angsa bertelur, merpati bertelur kita tarik kesimoulan umum bahwa angsa bertelur. Walaupun satu kesimpulan sudah sah dan logis , yetapi belum tentu dapat diterima. Diperlukan cukup banyak data dan pantas dijadikan model atau contaoh agar kesimpulan dapat diterima kenebarannya.
B. Kesimpulan Khusus
Contoh:
Pu : semua dokter tulisannya jelek
Pk : ayah saya seorang dokter
Jadi : ayah saya tulisannya jelek
Kesimpuloan ini, sah, ligis dan, benar.
C. Persamaan (Analogi)
Analogi adalah kesimpulan yang ditarik dengan jalan menyampaikan atau membandingkan suatau fakta khusus dengan fakta khusus lain. Kesimpulan dari analogi seringkali menyesatkan karena kedua fakta khusus yang dibandingkan tidak ada relevansinya.
Contoh:
Hidup ini laksana orang mampir ke warung; begitu kebutuhan telah terpenuhi ia segera meningggalkannya.
D. Alasan (Argumentasi)
Alasan atau argumentasi adalah sesuatu yang diberikan untuk membenarkan atau menguatkan suatu pendapat.
Contoh:
Lalu lintas du ibu kota seringkali macet karena banyak pengemudi yang tidak mematuhi peraturan lalu lintas. (alasanya bisa diterima)
Kesalahan dalam meberikan alasan sangat benyak sebabnya (chaer 2000 dalm Putrayasa 2010).
1) Alasan yang diberikan tidak mengenai pokok masalah
2) Alasan yang diberikan bukan mengenai masalah
3) Alasan yang diberikan tidak berdasarkan pendapat ahli
4) Alasan yang diberikan berdasarkan apriori
5) Alasan yang diberikan tidak ada hubungan dengana masalah poko
6) Alasan yang diberikan sama dengan masalahnya.
FAKTOR PENDUKUNG
KEEFEKTIFAN KALIMAT DAN FAKTOR PENYEBAB KETIDAKEFEKTIFAN KALIMAT
A. Faktor Pendukung Kefektifan Kalimat
1. Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar
Ragam bahasa sangat variatif. Kevariatifan itu cukup menambah khazanah pengetahuan kita. Dalam aplikasinya hendaknya kita dapat melihat situasi pemakaian bahasa, melakukan pilihan kata yang tepat, menggunakan struktur, baik pembentukkan kata maupun kalimat serta mememrhatikan makan sehingga bahasa yang digunakan tepat sasaran. Ragam bahasa dalam kontejs pendidikan merupakan ragam pemakaian bahasa terpelajar, resmi/baku. Oleh karena itu pemakaian bahadsa yang baik dan benar yang ditekankan.
2. Bahasa Baku
Sifat ragam baku
1. Kemantapan dinamis
2. Cendekia
3. Seragam
Ciri-ciri bahasa Indonesia baku:
a. Memakai ucapan baku
b. Memakai ejaan resmi
c. Terbatasnya unsur bahasa daerah, baik leksikal maupun gramatikal
kata daerah seharusnya kata derah/asing seharusnya
ketemu bertemu ketawa tertawa
gimana bagaimana tadian/nantian tadi/nanti
bilang mengatakan succes sukses
bikin membuat kenapa mengapa
entar bentar tv/tivi tv/teve
nggak tidak biarin biarkan
d. Pemakain fungsi granatikal (subjek, predikat, ... ) secara eksplisit dan konsisten
tidak baku baku
Kepada Bapak Rektor kami silakan Bapak Rektor kami silakan
penyususunan laporan itu saya dibantu suami dalam penyususnan laporan itu, saya di bantu suami
e. Pemakiain konjungsi bahwa atau karena (bila ada) secara eksplisit dan konsisten
tidak baku baku
paman tidak percaya tanahnya sudah habis terjual paman tidak percayua bahwa tanahnya sudah habis terjual
hari ini dia tidak masuk dia sakit hari ini dia tidak masuk karena sakit
f. Pemakaian awalan meN-; di- atau ber- (bila ada) secara eksplisit dan konsisten
tidak baku baku
dua orang penduudk lokal rampok tamu asing dua orang penduduk lokal merampok tamu asing
g. Pemakaian partikel lah, kah, pun (bila ada) secara konsisten dan
tidak baku baku
kerjakan tugas itu dengan baik kerjakanlah tugas itu dengan baik
h. Pemakaian kata depan, kata sambung secara tepat
tidak baku baku
hal itu akan saya laporkan sama atasan saya hal itu akan saya laporkan pada atasan saya
i. Pemakaian pola: aspek-pelaku-tindakan secara konsisten
tidak baku baku
prosedur yang benar telah saya lalui saya telah melalui prosedur yang benar
j. Menghindari pemakaian bentuk-bentuk yang mibazir atau bentuk bersininom
tidak baku baku
para hadirin sekalian yang saya hormati hadirin yang saya hormati
k. Menghindari pemakaian kalimat yang gbermqkna ganda
tidak baku baku
semua pegawai baru mengikuti penataran lokal semua pegawai, baru mengikuti penataran lokal
semua pegawai baru, mengikuti penataran lokal
l. Memakai konstruksi sintetis
tidak baku baku
dia punya saudara saudaranya
dikasih komentar dikomentari
dibikin bersih dibersihkan
dia punya hargar harganya
bikin kotor mengotori
m. Kata-kata yang sering salah pemakiannya
acuh; diacuhkan peduli; dipedulikan
co: dia sangat acuh ketika bertemu (peduli)
ketika saya tanya, dia acuh tak acuh (tidak peduli)
dirgahayu panjang umur, selamat selamanya
co:
dirgahayau Republik Indonesia (bukan dirgahayu HUT RI)
besok hari setelah hari ini, bukan hari esok yang tidak dapat ditentukan
co: besok aku datang ke rumahmu membawa laporan ini ( hari setelah hari in)
besok, kalau sudah wisuda undang aku ya (besok Jawa)
diketemukan ditemukan
co:
honda yang hilang sudah ditemukan oleh pihak yang berwajib
keberatan Terlalu Berat, Kalau Banyak Muatan; Seharusnya Berkeberatan
Co:
Saya Berkeberatan Memenuhi Prmintaan Saudara yang aneh itu.
pejabat
penjabat orang yang mempunyai jabatan
orang yang pada suatu waktu menjabat (sementara). Jadi , penjabat berarti pejabat sementara
co:
gubernur daerah itu sedang berduka karena itu penjabat gubernur diutus untuk mewakili rapat
pengecara
pembawa acara penasihat hukum
protokol/pewara
co:
pewara itu mempersilakan rektor untuk mmeberikan sambutan
sekarang banyak pengacara yang matereialistis
semena-mena
sewenag-wenang
Sesuka Hati/Tidak Semena-Mena
Co:
Pemerintah Saddam Husein sangat sewenag-wenang terhadap rakyatnya
para teroris bom Bali diperlakuian secara semena-mena (diperlakukan secara baik)
bangsa
rakyat hanya satu dalam sebuah negara/pemerintah
ratusan juta jiwa jumlahnya
co:
semoga seluruh bangsa Indonesia selalu jaya
seluruh rakyat Indonesiadiharapkan bersatu
ditugasi
ditugaskan digunakan jika tugas yang harus kita lakukan datang 9dibawakan kepada kita)
jika yang bergerak menuju ke tempat tugas itu
mengaja
mengajarkan co: Ibu Gita mengajar musid kelas IX
co: Pak Jibril mengajarkan bahasa Spanyol di kelas X.
gaji
gajih upah kerja yaang dibayarkan, dalam waktu tetap
lemak atau gemuk jawa
co:
dokter melarangnya makan makanan yang bergajih
memenangkan
memenangi membuat jadi menang
menang di atau menang pada
co:
teknik yang serba tepatlah yang memenangkan Gigi dalam pertangdingan itu
Gigi memenangi pertandingan itu
waris
warisan
mewarisi
mewariskan
pewaris orang yang berhak menerima pusaka yang sudah meninggal
harta pustaka peninggalan
mendapat pusaka
memberi pusaka
yang memberi pusaka
menanyakan
mempertanyakan meminta keterangan tentang sesuatu
mempersoalkan
co: peserta itu menanyakan bantuan dana yang digunakan pemerintah
masyarakat mempertanyakan keberadaan pedagang kaki lima
B. Faktor Penyebab Ketidakefektifan Kalimat
1. Kontaminasi dan Kerancuan
a) Kontaminasi kalimat
No Kalimat rancu Kalimat asal
1 Dalam bahasa indonesia tidak mengenal konyugasi Bahasa indonesia tidak mengenal konyugasi
dalam bahasa indonesia tidak dikenal konyugasi
2 Murid-murid dilarang tidak boleh merokok murid-murid dilarang merokok
murid-murid tidak boleh merokok
b) Kontaminasi kata
No Kalimat rancu Kalimat asal
1 berulang kali berulng-ulang
2 sering kali berkali-kali
kontaminasi dari sering dan banyak kali atau kerap kali atau acap kali
3 jangan biarkan jangan boleh dan tidak boleh
4 belum usah belum boleh atau belum dapat
tidak usah atau tak usah
c) Kontaminasi bentukan kata
Contoh:
Di sekolah kami dipelajarkanbeberapa kepandaian wanita.
Seharusnya: (diranccukan dari dipelajari dan diajarkan)
Di sekolah kami diajarkan beberapa kepandaian wanita
2. Pleonasme (Pemakaian Kata yang Berlebihan)
Menurut Badudu (dalam Putrayasa, 2010) Gejala pleonasne muncul karena
1) Pembicara tidak sadar bahwa apa yang diucapkan itu mengadung hal yang berlebihan
2) Dibuat bukan karena tidak sengaja, melainkan karena tidak tahu
3) Dibuat dengan sengaja sebagai salah satu bentuk gaya bahasa
a. Di dalam satu frase terdapat dua atau lebih kata yang searti
Contoh:
Pada zaman dahulu kala
Sangat sedikit sekali
b. Kata kedua sebenarnya tak perlu lagi karena sama
Contoh:
Naik ke atas, turun ke bawah
c. Bentuk jamak dinyatakan dua kali
Contoh:
Para guru-guru sedang rapat
3. Ambiguitas atau Keambiguan
Contoh:
Rumah sang jutawan yang aneh itu akan segara dijual
Perbaikan:
Rumah aneh milik sang jutawan itu akan segera dijual
Rumah sang jutawan aneh itu akan segera dijual
4. Ketidak jelasan Unsur Kalimat
Contoh:
Pembangunan itu untuk menyejahterakan masyarakat.
Subjek ket
Perbaikan:
Pembangunan itu menyejahterakan masyarakat.
Subjek predikat objek
5. Kemubaziran Preposisi dan Kata
Contoh:
Anak dari Pak Gigi menjadi polisi.
perbaikannya :
Anak Pak Gigi menjadi polisi.
Agar pemakaian kata dari dsalam kalimat menjadi efektif, berikut fungsi kata dari:
• Menyatakan tempat
• Menyatakan asal
• Menyatakan sebab
• Menyatakan sejak
• Menyatakan di antara
• Menyatakan mewatasi
• Menyatakan perbandingan
Fungsi kata di:
• Menyatakan tempat
• Menyatakan waktu tidak tentu
Contoh:
Buku catatanku ada di Alie .
Seharusnya:
Buku catatanku ada pada Alie.
6. Kesalahan Nalar
Contoh:
Pengemudi mobil tangki premix siap diajukan ke pengadilan.
Perbaikan:
Pengemudi mobil tangki premix akan segera diajukan ke npengadilan.
Pemakaian kata siap menyebabkan kalmiat tersebut tidak nalar.
7. Ketidaktepatan Bentuk Kata
Bentuk awalan pe- tidak mendapat bunyi apabila dilekatkan pada kata dasar berkonsonan /l/ atau /r/. Bentuk penyimpangan pada awalan pe- (karena dialek Jawa)
pengrusakan pengrawatan perusakan
pengluasan penglawatan seharusnya pelawatan
perlawatan perletakan sehaurnya peletakan
Bentukan yang menyimpang yang dibuat dengan sengaja untuk memperoleh arti lain dari bentukan yang sudah ada,
mendalami (kk) pendalaman (kb)
mengadili (kk) pengadilan (kb)
menguburkan (kk) penguburan(kb)
Kata pesakitan dan penyakitan tidak dibentuk seperti pada kata di atas. Pesakitan ialah si terdakwa yang masih berstatus tahanan, sedangkan penyakitan ialah jarang dalam keadaan sehat.
8. Ketidaktepatan Makna Kata
Contoh:
Kata kilah disamakah dengan kata kata atau ujar sehingga berkilah dianggap sama dengan berujar,
Kemarin Gita diberikan baju baru oleh Gie, kakaknya, dengan senang hati dia menerimanya. “Terima kasih,” kilahnya kepada Gie.
Menurut KBBI kilah artinya tipu daya, dalih. Jadi pemakaian seperti contoh tidak tepat. Berkilah artinya mencari-vari alasan untuk membantah pendapat orang.
Selain itu perlu juga memperhatikan hubungan kata dengan bentuknya , (chaer, 2000 dalm Putrayasa, 2010), yaitu,
• Konsep makna
• Homonimi
• Polisemi
• Hipernimi dan hiponimi
• Sinonim
• Antonim
• konotasi
9. Pengaruh Bahasa Daerah
Bentuk bahasa daerah seperti,
Heboh, becus, lumayan, mendingan, gagasan, gambleng, cemooh, semarak, bobot, macet, seret, melempem dll.
10. Pengaruh Bahasa Asing
Salah satu contoh yang dapat memperkaya khazanah bahasa Indonesia ialah masuknya kata-kata tertentu yang tidak terdapat dalam bahasa indonesia. Kata pikir, saleh, dongkrak, kursi, dan fakultas adalah kata-kata yang berasal dari bahasa asing yang sekarang tidak terasa sebagai kata-kata yang berasal dari bahasa asing.
A. Faktor Pendukung Kefektifan Kalimat
1. Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar
Ragam bahasa sangat variatif. Kevariatifan itu cukup menambah khazanah pengetahuan kita. Dalam aplikasinya hendaknya kita dapat melihat situasi pemakaian bahasa, melakukan pilihan kata yang tepat, menggunakan struktur, baik pembentukkan kata maupun kalimat serta mememrhatikan makan sehingga bahasa yang digunakan tepat sasaran. Ragam bahasa dalam kontejs pendidikan merupakan ragam pemakaian bahasa terpelajar, resmi/baku. Oleh karena itu pemakaian bahadsa yang baik dan benar yang ditekankan.
2. Bahasa Baku
Sifat ragam baku
1. Kemantapan dinamis
2. Cendekia
3. Seragam
Ciri-ciri bahasa Indonesia baku:
a. Memakai ucapan baku
b. Memakai ejaan resmi
c. Terbatasnya unsur bahasa daerah, baik leksikal maupun gramatikal
kata daerah seharusnya kata derah/asing seharusnya
ketemu bertemu ketawa tertawa
gimana bagaimana tadian/nantian tadi/nanti
bilang mengatakan succes sukses
bikin membuat kenapa mengapa
entar bentar tv/tivi tv/teve
nggak tidak biarin biarkan
d. Pemakain fungsi granatikal (subjek, predikat, ... ) secara eksplisit dan konsisten
tidak baku baku
Kepada Bapak Rektor kami silakan Bapak Rektor kami silakan
penyususunan laporan itu saya dibantu suami dalam penyususnan laporan itu, saya di bantu suami
e. Pemakiain konjungsi bahwa atau karena (bila ada) secara eksplisit dan konsisten
tidak baku baku
paman tidak percaya tanahnya sudah habis terjual paman tidak percayua bahwa tanahnya sudah habis terjual
hari ini dia tidak masuk dia sakit hari ini dia tidak masuk karena sakit
f. Pemakaian awalan meN-; di- atau ber- (bila ada) secara eksplisit dan konsisten
tidak baku baku
dua orang penduudk lokal rampok tamu asing dua orang penduduk lokal merampok tamu asing
g. Pemakaian partikel lah, kah, pun (bila ada) secara konsisten dan
tidak baku baku
kerjakan tugas itu dengan baik kerjakanlah tugas itu dengan baik
h. Pemakaian kata depan, kata sambung secara tepat
tidak baku baku
hal itu akan saya laporkan sama atasan saya hal itu akan saya laporkan pada atasan saya
i. Pemakaian pola: aspek-pelaku-tindakan secara konsisten
tidak baku baku
prosedur yang benar telah saya lalui saya telah melalui prosedur yang benar
j. Menghindari pemakaian bentuk-bentuk yang mibazir atau bentuk bersininom
tidak baku baku
para hadirin sekalian yang saya hormati hadirin yang saya hormati
k. Menghindari pemakaian kalimat yang gbermqkna ganda
tidak baku baku
semua pegawai baru mengikuti penataran lokal semua pegawai, baru mengikuti penataran lokal
semua pegawai baru, mengikuti penataran lokal
l. Memakai konstruksi sintetis
tidak baku baku
dia punya saudara saudaranya
dikasih komentar dikomentari
dibikin bersih dibersihkan
dia punya hargar harganya
bikin kotor mengotori
m. Kata-kata yang sering salah pemakiannya
acuh; diacuhkan peduli; dipedulikan
co: dia sangat acuh ketika bertemu (peduli)
ketika saya tanya, dia acuh tak acuh (tidak peduli)
dirgahayu panjang umur, selamat selamanya
co:
dirgahayau Republik Indonesia (bukan dirgahayu HUT RI)
besok hari setelah hari ini, bukan hari esok yang tidak dapat ditentukan
co: besok aku datang ke rumahmu membawa laporan ini ( hari setelah hari in)
besok, kalau sudah wisuda undang aku ya (besok Jawa)
diketemukan ditemukan
co:
honda yang hilang sudah ditemukan oleh pihak yang berwajib
keberatan Terlalu Berat, Kalau Banyak Muatan; Seharusnya Berkeberatan
Co:
Saya Berkeberatan Memenuhi Prmintaan Saudara yang aneh itu.
pejabat
penjabat orang yang mempunyai jabatan
orang yang pada suatu waktu menjabat (sementara). Jadi , penjabat berarti pejabat sementara
co:
gubernur daerah itu sedang berduka karena itu penjabat gubernur diutus untuk mewakili rapat
pengecara
pembawa acara penasihat hukum
protokol/pewara
co:
pewara itu mempersilakan rektor untuk mmeberikan sambutan
sekarang banyak pengacara yang matereialistis
semena-mena
sewenag-wenang
Sesuka Hati/Tidak Semena-Mena
Co:
Pemerintah Saddam Husein sangat sewenag-wenang terhadap rakyatnya
para teroris bom Bali diperlakuian secara semena-mena (diperlakukan secara baik)
bangsa
rakyat hanya satu dalam sebuah negara/pemerintah
ratusan juta jiwa jumlahnya
co:
semoga seluruh bangsa Indonesia selalu jaya
seluruh rakyat Indonesiadiharapkan bersatu
ditugasi
ditugaskan digunakan jika tugas yang harus kita lakukan datang 9dibawakan kepada kita)
jika yang bergerak menuju ke tempat tugas itu
mengaja
mengajarkan co: Ibu Gita mengajar musid kelas IX
co: Pak Jibril mengajarkan bahasa Spanyol di kelas X.
gaji
gajih upah kerja yaang dibayarkan, dalam waktu tetap
lemak atau gemuk jawa
co:
dokter melarangnya makan makanan yang bergajih
memenangkan
memenangi membuat jadi menang
menang di atau menang pada
co:
teknik yang serba tepatlah yang memenangkan Gigi dalam pertangdingan itu
Gigi memenangi pertandingan itu
waris
warisan
mewarisi
mewariskan
pewaris orang yang berhak menerima pusaka yang sudah meninggal
harta pustaka peninggalan
mendapat pusaka
memberi pusaka
yang memberi pusaka
menanyakan
mempertanyakan meminta keterangan tentang sesuatu
mempersoalkan
co: peserta itu menanyakan bantuan dana yang digunakan pemerintah
masyarakat mempertanyakan keberadaan pedagang kaki lima
B. Faktor Penyebab Ketidakefektifan Kalimat
1. Kontaminasi dan Kerancuan
a) Kontaminasi kalimat
No Kalimat rancu Kalimat asal
1 Dalam bahasa indonesia tidak mengenal konyugasi Bahasa indonesia tidak mengenal konyugasi
dalam bahasa indonesia tidak dikenal konyugasi
2 Murid-murid dilarang tidak boleh merokok murid-murid dilarang merokok
murid-murid tidak boleh merokok
b) Kontaminasi kata
No Kalimat rancu Kalimat asal
1 berulang kali berulng-ulang
2 sering kali berkali-kali
kontaminasi dari sering dan banyak kali atau kerap kali atau acap kali
3 jangan biarkan jangan boleh dan tidak boleh
4 belum usah belum boleh atau belum dapat
tidak usah atau tak usah
c) Kontaminasi bentukan kata
Contoh:
Di sekolah kami dipelajarkanbeberapa kepandaian wanita.
Seharusnya: (diranccukan dari dipelajari dan diajarkan)
Di sekolah kami diajarkan beberapa kepandaian wanita
2. Pleonasme (Pemakaian Kata yang Berlebihan)
Menurut Badudu (dalam Putrayasa, 2010) Gejala pleonasne muncul karena
1) Pembicara tidak sadar bahwa apa yang diucapkan itu mengadung hal yang berlebihan
2) Dibuat bukan karena tidak sengaja, melainkan karena tidak tahu
3) Dibuat dengan sengaja sebagai salah satu bentuk gaya bahasa
a. Di dalam satu frase terdapat dua atau lebih kata yang searti
Contoh:
Pada zaman dahulu kala
Sangat sedikit sekali
b. Kata kedua sebenarnya tak perlu lagi karena sama
Contoh:
Naik ke atas, turun ke bawah
c. Bentuk jamak dinyatakan dua kali
Contoh:
Para guru-guru sedang rapat
3. Ambiguitas atau Keambiguan
Contoh:
Rumah sang jutawan yang aneh itu akan segara dijual
Perbaikan:
Rumah aneh milik sang jutawan itu akan segera dijual
Rumah sang jutawan aneh itu akan segera dijual
4. Ketidak jelasan Unsur Kalimat
Contoh:
Pembangunan itu untuk menyejahterakan masyarakat.
Subjek ket
Perbaikan:
Pembangunan itu menyejahterakan masyarakat.
Subjek predikat objek
5. Kemubaziran Preposisi dan Kata
Contoh:
Anak dari Pak Gigi menjadi polisi.
perbaikannya :
Anak Pak Gigi menjadi polisi.
Agar pemakaian kata dari dsalam kalimat menjadi efektif, berikut fungsi kata dari:
• Menyatakan tempat
• Menyatakan asal
• Menyatakan sebab
• Menyatakan sejak
• Menyatakan di antara
• Menyatakan mewatasi
• Menyatakan perbandingan
Fungsi kata di:
• Menyatakan tempat
• Menyatakan waktu tidak tentu
Contoh:
Buku catatanku ada di Alie .
Seharusnya:
Buku catatanku ada pada Alie.
6. Kesalahan Nalar
Contoh:
Pengemudi mobil tangki premix siap diajukan ke pengadilan.
Perbaikan:
Pengemudi mobil tangki premix akan segera diajukan ke npengadilan.
Pemakaian kata siap menyebabkan kalmiat tersebut tidak nalar.
7. Ketidaktepatan Bentuk Kata
Bentuk awalan pe- tidak mendapat bunyi apabila dilekatkan pada kata dasar berkonsonan /l/ atau /r/. Bentuk penyimpangan pada awalan pe- (karena dialek Jawa)
pengrusakan pengrawatan perusakan
pengluasan penglawatan seharusnya pelawatan
perlawatan perletakan sehaurnya peletakan
Bentukan yang menyimpang yang dibuat dengan sengaja untuk memperoleh arti lain dari bentukan yang sudah ada,
mendalami (kk) pendalaman (kb)
mengadili (kk) pengadilan (kb)
menguburkan (kk) penguburan(kb)
Kata pesakitan dan penyakitan tidak dibentuk seperti pada kata di atas. Pesakitan ialah si terdakwa yang masih berstatus tahanan, sedangkan penyakitan ialah jarang dalam keadaan sehat.
8. Ketidaktepatan Makna Kata
Contoh:
Kata kilah disamakah dengan kata kata atau ujar sehingga berkilah dianggap sama dengan berujar,
Kemarin Gita diberikan baju baru oleh Gie, kakaknya, dengan senang hati dia menerimanya. “Terima kasih,” kilahnya kepada Gie.
Menurut KBBI kilah artinya tipu daya, dalih. Jadi pemakaian seperti contoh tidak tepat. Berkilah artinya mencari-vari alasan untuk membantah pendapat orang.
Selain itu perlu juga memperhatikan hubungan kata dengan bentuknya , (chaer, 2000 dalm Putrayasa, 2010), yaitu,
• Konsep makna
• Homonimi
• Polisemi
• Hipernimi dan hiponimi
• Sinonim
• Antonim
• konotasi
9. Pengaruh Bahasa Daerah
Bentuk bahasa daerah seperti,
Heboh, becus, lumayan, mendingan, gagasan, gambleng, cemooh, semarak, bobot, macet, seret, melempem dll.
10. Pengaruh Bahasa Asing
Salah satu contoh yang dapat memperkaya khazanah bahasa Indonesia ialah masuknya kata-kata tertentu yang tidak terdapat dalam bahasa indonesia. Kata pikir, saleh, dongkrak, kursi, dan fakultas adalah kata-kata yang berasal dari bahasa asing yang sekarang tidak terasa sebagai kata-kata yang berasal dari bahasa asing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar