Senin, 15 Desember 2014

CAMPUR KODE DAN ALIH KODE



1.      ALIH KODE
Situasi I
Pasar Tradisional
  Percakapan
Desi                 :  Berapa hargan ikan sekilo pak?
Penjual                        : Dua lima dek.
Desi                 : mahal sekali pak?
Penjual                        : sekarang semua mahal dek, opo-opo mahal. Garem ae seng murah.
   Analisis Percakapan
Pada percakapan di atas terjadi disebuah pasar, ketika saya Desi pergi kepasar untuk membeli ikan. Dan bertanya kepada si penjual. Yang bercetak miring diatas merupakan alih kode yang dilakukan si penjual ikan terhadap saya. Kata opo-opo merupakan bahasa daerah (Jawa) yang berarti apa-apa, kemudian garem ae yang berarti garam saja. Alasan si penjual menggunakan bahasa daerah dikarenakan latar belakang si penjual ikan berasal dari daerah jawa asli.
      Situasi II  
 Menghormati lawan bicara

Dalam peristiwa tutur antara seseorang yang lebih tua dengan yang lebih muda atau seseorang dengan status sosial yang lebih rendah dengan orang yang memiliki status sosial lebih tinggi, atau antara atasan dan bawahan,  alih kode kerap terjadi dengan tujuan menghargai atau menghormati lawan bicara. Seperti contoh berikut:


Bupati                : “Berapa anaknya pak ?”
Warga                : “ Iye Inggomiu,  o omba ananggu.” (Ada empat
                              anakku,Pak)
Bupati                : “Sekolah semua?”
Warga                : “Alhamdulliah, Inggomiu oruo mesikola ni SD, o aso
         mesikola ni SMP, o owose  laito ni SMA.” (Alhamdullah,
        Pak, dua sekolah di SD, satu di SMP, yang besar di SMA)


Analisis Percakapan
Dalam petikan dialog di atas, seorang warga yang ditanya oleh Bupati dengan bahasa Indonesia tetapi menjawabnya dengan bahasa Tolaki, bukan berarti si warga tidak bisa berbahasa Indonesia tetapi karena tujuannya memberi rasa hormat maka yang bersangkutan menjawabnya dalam bahasa daerah.

Situasi III
Palupi dan Agung sedang menunggu dimulainya rapat.

percakapan
Palupi              : Lima menit lagi rapat dimulai, tapi tumben sekali Pilar belum datang.
Agung             : Tapi dia tadi bilang mau datang.
Palupi              : Itu dia datang. Woi,wes mepet ko nembe teko. Seko ngendi kue?
Pilar                 : Mampir ngomah disek.

Analisis Percakapan
Dalam situasi di atas Palupi beralih kode dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Jawa saat berbicara dengan Pilar, karena mereka berasal dari daerah yang sama, yaitu Jawa Tengah.
 Arti dari percakapan yang bergaris miring diaras adalah:
Palupi              : itu dia datang. Woi, sudah mepet ko baru datang, dari mana kamu?
Pilar                 : mampir rumah dulu.


2.      CAMPUR KODE
Situasi IV
Percakapan
Desy    : Besok kamu bisa ngantar aku nggak Rit?
Rita      : Besok aku nggak bisa.
               Aku meh ngantar temanku ke rumah sakit.
Desy    : Aduh, padahal aku meh ngajak kamu ke rumahe pamanku.
             Pamanku nyuruh aku kesana.
Rita      : Maaf yo, Aku nggak bisa ngantar kamu?
Desi     :  Ya, nggak apa-apa kok.
 Analisis Percakapan
Dalam percakapan di atas, penutur yakni Desi sedangkan mitra tutur yakni Rita. Topik pembicaraan pada percakapan di atas yakni berupa ajakan. Dibawah ini yang bergaris bawah merupakan percakapan yang menunjukkan adanya campur kode antara lain:
Rita      :  Aku meh ngantar temanku ke rumah sakit.
Desy    :  Aduh, padahal aku meh  ngajak kamu ke rumahe pamanku.
Rita      : Maaf yo, Aku nggak bisa ngantar kamu?

Penyebab adanya Campur kode yakni tingkat keakraban. Meh berarti mau, rumahe berati rumahnya dan yo berarti iya, karena antara penutur dengan mitra tutur itu sudah akrab serta keduanya berasal dari Jawa tengah. Sehingga dalam penggunaan bahasa juga bukan formal melainkan nonformal atau ragam akrab.


Situasi V
Kampus
Anggi              : Tadi waktu kuliah Pak Lanjar, saya chatting dengan orang Lombok
Dina                : Kuliah kok malah chatting dengan orang Lombok.
Anggi              : Habisnya kuliah tadi membosankan. Materi tidak bisa ditampilkan karena laptop Pak Lanjar LCD-nya rusak, ditambah AC mati, membuat ruangan terasa panas.

Dalam percakapan Anggi dan Dina di atas, Anggi melakukan campur kode dengan menyisipkan kata-kata dalam bahasa asing (yang dicetak miring) dalam percakapannya yang memakai Bahasa Indonesia.
            Ada beberapa alasan mengapa orang melakukan alih kode atau campur kode. Seperti alasan solidaritas, penghormatan terhadap lawan bicara, sinyal keanggotaan (etnis), alih peran, mengutip, afektif, alasan metaporik, dan keterbatasan kosakata (Holmes, 1992). Dialog pertama di atas adalah contoh alasan sinyal keanggotaan, sedangkan dialog kedua adalah contoh alasan keterbatasan kosakata dalam bahasanya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar